Produsen sawit tak kehilangan akal untuk melakukan
penghematan. SaIah satu cara yang mereka lakukan adalah memenuhi kebutuhan
setrum untuk pabrik pengolahan kelapa sawit mereka dengan membangun pembangkit
listrik berbahan bakar biomassa.
Beberapa perusahaan yang sudah memiliki pembangkit
listrik berbahan bakar biomassa diantaranya PT Austindo Nusantara Jaya Tbk,
Asian Agri Grup, dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. Namun diantara tiga
perusahaan ini, baru Austindo yang berniat menjual listriknya kepada
masyarakat, Sementara PT Sawit Sumbermas Sarana dan Asian Agri baru sebatas
untuk mencukupi kebutuhan setrum di pabrik mereka sendiri. Menurut catatan
Sekretaris Jenderal Asosiasi Biogas Indonesia, Trio Chadys, dari sekitar 800
perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di Indonesia, baru sekitar 5%
diantaranya yang menggunakan limbah kelapa sawit untuk pembangkit listrik biomassa.
Mayoritas pembangunan pembangkit tersebut berada di pabrik-Pabrik kelapa sawit yang
ada di Sumatera dan KaIimantan.
Asian Agri menyatakan, pihaknya sudah memiliki Iima
pembangkit dengan total kapasitas 10 MW. Namun, hingga 2020, Asian Agri akan
kembali membangun pembangkit biogas dengan total 40 MW. "Satu unit
pembangkit bisa menerangi sekitar 2.000 rumah tangga dengan asumsi pemakaian
900 watt per rumah tangga.
Minat pengusaha kelapa sawit untuk membangun
pembangkit biomassa ini akan meningkat jika pemerintah memperbaiki harga pembelian
setrum. Sebab tarif yang berlaku sekarang yakni US$ 10.50 sen per kwh terlalu
kecil “Feed in tariff” biogas atau biomassa seharusnya US$ 11,75 sen per
kwh agar investor tertarik," katanya.
Minat investasi
PLN melakukan penyesuaian harga beli listrik biomassa,
lantaran investasi membangun pembangkit mahal dan banyak menggunakan produk
impor. Selain itu harga jual listrik tidak diberlakukan dengan rupiah, tapi
dengan dollar AS.
Di sisi lain pemerintah harus membantu pembangunan
infrastruktur agar setrum bisa digunakan masyarakat. tanpa infrastruktur dari
pemerintah maka ongkos yang harus dikeluarkan investor listrik biomassa makin
mahal.
Menanggapi permintaan kenaikan tarif biomassa dan
biogas ini, Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Sujatmiko mengatakan untuk feed in tariff biogas dan biomassa masih
perlu dikaji terlebih dahulu, jangan sampai kebijakan tersebut malah jadi beban
bagi negara. "Makanya arah portofolio ini, misalnya biogas atau air
didorong mendapat fasilitas pemerintah daerah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar